‘
Apakah nge-blog bikin goblog?
Boleh anda jawab ya, boleh juga tidak. Yang jelas suatu tantangan bagi saya untuk menulis ‘Bang Jo’ yang memang rada-rada konyol. Semoga saja sang penulis engga ketularan o’on nya. Bang Jo sendiri, plus sifat khas-nya, hidup dari kalangan apa adanya - untuk menghaluskan sebuah tingkat sosio ekonomi yang jauh dibawah kaum ‘serba ada‘.
Dalam kehidupan Jakarta, di sebuah metropolitan yang pelan-pelan membuat kemanusiaan justru menjadi sinonim dari kebinalan, Bang Jo yang apa adanya bisa jadi dianggap papa - tidak punya apa-apa. Tapi adakah kenihilan materi berujung pada ketumpulan intelektual dan ketumpulan hatinurani ? Tantowi Yahya pernah berkata ‘kebodohan dekat dengan kemiskinan’. Bila premis ini diputar, timbul hal yang menggelitik : benarkah kemiskinan dekat dengan kebodohan? Memangnya, kebodohan yang seperti apa yang kita pahami bersama? Mari bersama-sama pula kita merenungkannya.
Akhir kata, saya masih merasa bersyukur karena Gandhi sekedar meluruskan jalan perjuangan tanpa kekerasan dengan meminta kita untuk meletakkan senjata. Pena dan tinta masih boleh kita pegang, menulis apa yang benar, demi kemanusiaan.
,,
salam hangat dari penulis Bang Jo,
Johanes.Koen,

