Semenjak Man Atek menawarkan member Kemudian.com untuk menulis puisi bertema roket dan satelit, hati Bang Jo ikut tertarik. Dua benda itu memang belum pernah ia lihat secara langsung. Roket, hanya ia lihat di televisi ketika marak berita invasi Iraq. Sedangkan satelit kapanpun bisa Bang Jo lihat di rumah, karena diruangtamunya, ada kalender yang memuat benda itu dengan jelas. Sebuah kalender pemberian Bu Deden, pemilik warung sebelah.
Tapi Bang Jo cukup tahu diri. “Man Atek itu sepertinya kalau ngga orang LIPI ya orang LAPAN. Maka, kumpulan puisi ini, bila jadi diterbitkan pasti yang baca para peneliti. Para ilmuwan botak yang tiba-tiba bosen atau keberatan pikiran. Kalau nanti yang kusajakkan salah, bisa dikira udik, jauh dari ilmu tentang hal yang demikian.” Bang Jo sadar ia harus hati-hati. Baginya roket dan satelit adalah benda penuh misteri.
Maka kalender bergambar satelit itulah yang mengantar Bang Jo ke rumah Bu Deden malam harinya. Sekedar basa-basi, ia membeli telor dulu, baru kemudian bertanya apa Pak Deden sudah pulang. Dan ternyata benar, buruh yang mengurus transmisi backhaul Jawa Sumatera milik Telkom itu telah pulang dari kantornya di Tomang. Bang Jo gembira, kalender satelit makin erat digenggamnya.
“Banyak gunanya Mas.” tutur Pak Deden mencoba lebih akrab dengan Bang Jo. “Dengan satelit, jarak bukan lagi masalah. Penggelaran jaringan tidak akan terbentur hanya karena pulau-pulau tempat kita ini dipisah laut-laut yang luas. Bahkan jika, misalnya, sedang di pedalaman Irian sana, Mas tetep bisa nge SMS Hepi di Jakarta. Ya itu gunanya satelit.”
Mendapat penjelasan itu Bang Jo tambah penasaran. Merasa pikirannya sebentar lagi hendak bertemu teori yang njlimet, ia berusaha membuang kepala ke kiri, ke kanan, ke bawah, dan kadang ke atas. Relaksasi. Tak sengaja dilihatnya lampu di plafon rumah. “Bahkan bagaimana neon 45 watt ini bisa menyala, aku tak mengerti. Selama ini aku hanya sekedar membeli neon, dan artinya akupun membeli sebuah misteri” di ruang tamu Pak Deden, filsafat hukumnya kumat!
“Ya sekedar repetear saja kok, Mas. Frequensinya kan diatas delapan giga, di kanal setinggi itu gelombang jadi seperti cahaya. Walau loss propagasinya besar, tapi jangkauannya jauh, dan cepet nyampainya. Itu yang bikin telpon satelit sistemnya ngga perlu dibagi per cluster lagi macem hape yang kita pakai sekarang ini. Belum lagi bandwidth yang lebih tinggi karena efisiensi modulasi penggeseran fasa empat kali sebelum radionya ditransmisi”
“Mohon maaf, Pak. Repetear, dan lain-lainnya itu tadi itu istilah apa ya kalo saya boleh tanya? Maksudnya itu bagaimana gitu, Pak?”
Pak Deden yang ditanyai seperti itu giliran mumet. Baru sadar ia sekarang, bahwa yang ada di depannya adalah orang awam, bukan kawan sekantor atau setidaknya mahasiswa yang kebetulan sedang magang. Pak Deden melihat Bang Jo yang masih kebingungan. Telor yang tadi dibeli sudah tergeletak di meja, tapi kalender bergambar satelit itu masih dipegangnya. Kasihan.
“Begini, Mas. Repetear itu ya gampangnya penerus. Kalau propagasi itu, emm.. yah semacam tadi dari warung, Mas bertamu ke rumah saya. Nah modulasi, artinya numpang. Misal jika nanti Mas nginep semalam disini. Lalu, frekuensi, kurang lebih sama waktu tiap pagi Mas nganter Hepi sekolah di Mampang, sehari sekali. ”
Dengan penjelasan ‘asal mudah’ tadi, akhirnya Bang Jo bisa pulang dengan pikiran plong, senang. Ternyata satelit itu seperti hidup keseharianku sama mamah sama Hepi.
Setelah sampai rumah, ia cantelkan dulu kalender diruang tamu sebelum kelonan sama bini. Merasa intelektualnya masih mampu mengimbangi Pak Deden, engineer Telkom yang tadi disambangi, diatas kasur Bang Jo dengan bersemangat menjelaskan ulang apa yang didapatnya.
“Mah, di satelit itu ternyata ya cuma seperti hidup kita ini. Ada tetangga, bisa jalan kesana-sini, bahkan bisa numpang di rumah kawan.” Bang Jo sedang mendeskripsi tentang propagasi dan modulasi.
“Tapi awas ya, kalau di satelit, bapak pengen punya istri lagi !”
“Nggak mah.. Di satelit, aku ngga minat beristri lagi” Bang Jo tersenyum nakal, sambil meneruskan dalam hati, “tidak di satelit, tapi di roket, barangkali.”

6 Responses
Nopember 22nd, 2008 at 09:28
Ini bukan mantenan ! Tidak perlu nyumbang atau punya undangan untuk mengisi sebuah komentar. Mari, silakan kawan..
Nopember 22nd, 2008 at 14:04
Kebetulan sudah pernah main ke kantor Man Atek di LAPAN yang terletak di Rumpin sana, ternyata para penelitinya tidaklah berkepala botak hehehe. Buktinya Man Atek sendiri hahaha (tapi jangan-jangan beliau pake rambut sentetis?).
Hanya saja memang tidak terbayangkan Indonesia dengan budget yang cukup minim mempunyai ambisi untuk menciptakan roket jelajah lewat percobaan-percobaannya.
Balik lagi ke masalah puisi tantangan tentang roket. Itu thema yang menurutku gampang-gampang susah. Segampang bunyi JEEEEZZZ saat roket diluncurkan, tetapi sesulit roket ketika dirangkai dengan ilmu fisika elektronik. Diamput!!!
Btw, blog Bang Jo sangat progresif nech. Aku belum sempat ngeblog nech.
Nopember 24th, 2008 at 18:54
wuich ampuh tenan panjenengan, langsyung syung terinspirasi.
kalo mo tahu roket buatan anak negeri silakan datang ke Rumpin
seperti yang mas Bamby bilang beliau pernah ke Rumpin, hehe
hayo kapan, dikau kutunggu, sep sep !
Februari 25th, 2009 at 05:46
Weh, Kunto..
Blogmu yg satu lagi piye nasibé? hehe
Groetjes van Nederland!
Baiu
Maret 1st, 2009 at 06:08
buat baiu, lha aku bingung kemarin aku sakit kok blog ku ikutan sakit. homepage nya error 403. tp hosting masih normal normal aja. hehe..
btw gmn kabarmu, juga kawan2 di belanda? bali koe, ra ning londo sue sue. hehe
Maret 15th, 2009 at 19:49
haiiihh..
mentang2 di bandung, saiki panggilane Bang Jo.. opo bangjo sing di perempatan jalan itu?
teman2 apik kabeh. rata2 sudah mau tugas akhir. iyo ki ra dhuwe duit arep bali hehe.. mbok kasi kreditan ngono
Leave a Comment