Hari Sabtu sore ketika sedang ongkang-ongkang di rumah petak yang empet-empetan di Kampung Bali, Jakarta Pusat, Bang Jo kedatangan tamu. Tadinya dipikir ya itu-itu saja, kalau ngga Pak RT ngajak Badminton, paling-paling tukang tagih kredit. Maklum belum lunas juga cicilan mesin cuci sang bini. Tapi kali ini melesat, Pak Pri, guru anak perempuannya, sudah nunggu dibukakan pintu ruang tamu.
“Hlo, Pak Pri, mari mari silakan masuk. Tumben, sampai menyempatkan kemari?” tanya Bang Jo menyelidik.
“Iya, ada yang harus saya bicarakan dengan Bapak. Yah sekalian mampir, silahturahmi.” Pak Pri sedikit menghaluskan kedatangannya, toh alasan mampir juga logis karena rumahnya hanya di Kebon Kacang, sebelah Kampung Bali. Sama juga kondisinya, empet-empetan.
“Mohon maaf sebelumnya Pak.”
“Iya, silakan Pak Pri.”
“Begini, tadi di sekolah, Hepi putri Bapak, kedapatan mencuri.” hati-hati Pak Pri menyiarkan kabar. Takut kalau Bang Jo naik pitam. Maklum, orang miskin darahnya lebih cepat ngalir ke otot daripada ke otak.
Dan Bang Jo terdiam. Pikirannya melayang, membayangkan harus menebus barang yang sudah dicuri anaknya, yang berarti keluar duit lagi, atau berurusan sama polisi, yang juga sama arti : duit lagi. Tidak lama, ia tersadar jika Pak Pri masih diruangtamunya. “Hepi mencuri ?!! Nyolong apa dia Pak?”
“Plagiat Pak, mencuri puisi !” didepan Bang Jo, Pak Pri menyalak mantab kali ini.
“Nyolong Puisi ??” Seketika kegalauan tentang duit tebusan, atau urusan dengan polisi sudah hilang. Tapi Bang Jo malah tambah galau. Dulu kiranya hanya pesawat teve, duit di dompet, kalung-kalungan, atau paling pol anak gadis orang yang bisa dicuri, dan sama sekali bukan yang satu itu, puisi.
“Pak Pri, apa uang saku yang aku beri ke Si Hepi tidak cukup untuk ia beli puisi sendiri? Kalau sedang tidak kuantar, anakku itu pasti kuberi uang transport yang kukira sudah cukup untuk pulang pergi dari sini sampai Mampang. Dan aku pikir, masih ada sisa, yah cukup untuk jajan cendol, fotokopi, atau itu tadi Pak, beli puisi.” Bang Jo masih berusaha membela, pikirnya tak mungkin putrinya mencuri apa yang sebetulnya mampu ia beli.
“Tapi kenyataannya memang begitu Pak. Mohon maaf bukan saya sok tahu ya. Saya ini Guru Bahasa Indonesianya. Sewaktu nge-cek tugas pelajaran, memang Hepi putri bapak, mencuri puisi. Ini bukan tuduhan, Pak. Saya sudah menanyakan langsung ke Hepi dan dia ngaku kalau dia mencuri puisi.”
“Hla, sebentar-sebentar. Saya ini walau DO, tapi pernah kuliah di Hukum. UGM malah. Delapan tahun Pak! Kalau bapak menuduh, itu harus ada bukti, ada saksi. Kalaupun ada saksi, kesaksian satu orang itu adalah batal demi hukum. Belum lagi praduga tak bersalah. Pak Pri harus paham itu. Harus paham Pak! Paham !! Sudah, mana, saya mau lihat dulu barang curiannya ?” Bang Jo mulai ngotot, ingin menadah barang curian, sebuah puisi.
Lalu disodorkannya lembar tugas Hepi pada Bang Jo. Cuma selembar kertas garis-garis, yang disobek dari tengah buku tulis. Bang Jo menerimanya, memakai kacamata baca, lalu melihatnya. Cuma terlihat dua baris puisi. Tepatnya sebaris judul, dan sebaris isi. Puisi kontemporer rupanya, selidik Bang Jo dalam hati.
“Pak Pri, aku tidak melihat puisi anakku hasil curian. Ini puisi bagus, kontemporer. Anakku cerdas, buktinya tanpa restuku, aliran sastra postmodern sudah dianutnya. Lihat Pak, puisinya cuma ringkas. Dua baris, sebaris judul dan sebaris isi. Kalaupun mau nyolong, ngga ada untungnya Pak kalau cuma sesedikit ini.”
“Justru itulah, karena dua baris itu saya jadi yakin kalau anak Bapak, Hepi, mencuri puisi.” Pak Pri ibarat jaksa penuntut, mendekap erat dakwaannya.
“Lihat baik-baik Pak,” guru itu melanjutkan, ” Di judul memang tidak ada masalah, jelas Bapak bisa baca disitu “Anak Orang Miskin”. Tapi sebaris berikutnya yang dijadikan isi puisi, itu plagiat habis-habisan Pak. Bapak tahu, mengambil kalimat dari puisi orang lain, itu bukan cuma kriminil tapi juga tak tahu malu! Lihat itu Pak, di sebaris isi puisi karangan Hepi, anak bapak terang-terang menjiplak tulisan pujangga besar negeri ini. Anak bapak menjiplak Charil Anwar. Anak bapak mencuri puisi orang lain. Bapak seharusnya malu.” Pak Pri semakin bersemangat, ibarat penjaga pintu neraka, siap menjebloskan orang-orang berdosa.
“Dan lagi, Pak.” Pak Pri masih terus berkotbah,” Anak Bapak mengambil diksi dari Chairil Anwar, ini pengkhiatan pada penghargaan akan intelektual. Main comot seenaknya, nanti Chairil bisa-bisa tidak tenang di baka sana. Sekali lagi saya menyimpulkan, isi puisi berjudul ‘Anak Orang MIskin’ itu murni plagiat dari Chairil Anwar. Karena tanggung jawab saya sebagai guru, saya sempatkan datang ke rumah Bapak menerangkan ini, demi integritas Bangsa, demi menegakkan kejujuran warga negara .”
Merasa terdesak, sekali lagi Bang Jo membetulkan letak kacamata bacanya. Pelan-pelan dibaca puisi anaknya. Baris bebaris, yang ternyata isinya :
Tugas Bahasa Indonesia. Johanna Hepi. Absen 22.
“Anak Orang Miskin”
Aku
Dan Bang Jo cuma bisa diam. Orang tua itu tambah muram, tak mengerti mana yang benar, plagiat atau bukan. Entah bagaimana perasaannya, sehari kemudian.
*foto diambil dari bp3.blogger.com/…/s400/big_burglar.gif

5 Responses
Nopember 16th, 2008 at 06:31
Ini bukan mantenan ! Tidak perlu nyumbang atau punya undangan untuk mengisi sebuah komentar. Mari, silakan kawan..
Nopember 17th, 2008 at 07:37
Bang Jo rumahe mampang juga to
wah boleh konsultasi nih
aku yo neng mampang kie
sesekali entuk mampir ra?
Nopember 17th, 2008 at 11:02
SALUT :
1. utk kuliah di FH UGM 8 tahun dan DO. masi untung sy bisa Bang JO, 6taon ngangon di padjadjaran walo jeprutz teuteubh (hahaha. membela diri)
2. anakperempuan Bang Jo calon keren kayak bapaknya, amin….
3. ESENSI humor-satire nya BERASA sekali Bang Jo… Hahaha, guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ini. ah, dunia oh dunia……….
Nopember 18th, 2008 at 19:26
untuk putri,
nanti saya salamkan untuk Bang Jo, dan Hepi, putrinya.
Humor Satire.. wah jika disatukan jadi sebutan yang mengerikan ya? jauh dari satire dan ngga ada lucu-lucunya.
salam hangat,
johanes.koen
Nopember 24th, 2008 at 17:02
yang ini mantap menggelitik…tertawa terpingkal-pingkal euy…mantaplah…
Leave a Comment