FireStats error : FireStats: Unknown commit strategy
  • 11Nop
    Categories: Tak Berkategori

    Bang Jo rada pusing hari ini. Pagi ini, waktu dia baca Republika, ada salah satu kolom yang menarik. Terpampang foto perempuan cantik di pojok kiri, dengan jilbab menutup kepalanya. “Ah sayang, aku sudah menikah, kalau tidak, lumayan juga perempuan ini. Tapi jangan-jangan dia berjilbab karena rambutnya jelek, gagal bonding, atau kepalanya botak.” gumamnya dalam hati.

    Namun bukan karena sudah menikah, kudung, atau khayal nakal tentang kepala botak pitak yang bikin lelaki itu pusing. Wine Dwi Mandella, perempuan yang nongkrong di pojok kolom itu dipecat dari Bagian Fisioterapi, RS Mitra gara-gara dia ngantor pakai jilbab. Bang Jo tak habis pikir, di negeri tempat anggota DPR seenaknya terima suap, tempat Sumantri Irianto yang Kades di Klaten itu bisa berzina dengan anak SMP plus direkam pakai kamera HP, kok ya masih ada perempuan dipecat gara-gara kudungan.

    “Pak, mbok ya sudah, ngga perlu ngedumel begitu. Itu namanya dia berani menunjukkan sikap. Kegelisahanmu itu benar, tapi juga ngga berguna amat buat Wine. Sudah sana, cepet boncengin anakmu ke sekolah. Nanti ndak telat!” Istri Bang Jo, yang orang Dumai tapi sudah ketularan Jawa itu mengingatkan.

    Bang Jo, yang memang kerjaannya ngga begitu jelas itu, nurut sama istri. Dia tekuk lagi Republika, pakai helm dan nganterin anaknya ke sekolah. Pusingnya bukan beralasan. Sebelum tahun 50′an, kasus-kasus diskriminasi karena keyakinan masih sering terjadi, bahkan di Amerika. Mulai dari murid sekolah penganut Saksi Jehovah yang di DO gara-gara ngga mau hormat pada bendera, hukuman kurungan pada beberapa warga akibat penolakan wajib militer yang didasari keyakinan agama bahwa perang adalah kekerasan yang tidak semestinya, atau kecaman terhadap guru Biologi karena mengajarkan teori evolusi yang bertentangan dari dogma kreasi ilahi. “Tapi bukannya itu dulu? Jaman aku belum menikah, jaman republik ini masih dungu?” gumam Bang Jo tak kalah dungu.

    Setelah anaknya salim dan masuk gerbang sekolah, pikiran Bang Jo makin gundah. Ia melihat putrinya itu sambil menerawang, membayangkan kalau tiba-tiba Ia terima surat dari sekolah, menerangkan bahwa putrinya dikeluarkan dari sekolah karena kedapatan hamil. Ah.. bukankah hamil, pakai jilbab, tidak hamil, atau tidak pakai jilbab adalah hak asasi. Set back, kemunduran rasa kemanusiaan manusia-manusia republik ini. Sekali lagi Bang Jo, dalam kutukannya, juga membuncahkan kedunguannya.

    Tapi Bang Jo bukan tokoh khayal semacam Pak Amat bikinan Putu Wijaya yang hobi nongkrong di warung kopi, ngobrol sama mahasiswa untuk mencari jawaban kegelisahan hati. Jaman ini, Bang Jo pikir tak ada lagi mahasiswa yang siang-siang (atau bahkan malam) berdiskusi sambil wedangan di warung pinggir jalan. Sempat Bang Jo, yang masih terpesona dengan romantisme diskusi warung kopi, mencari alternatif macam Starbucks. Tapi akhirnya dia kecewa. Di tempat itu memang ada kopi, ada juga satu dua mahasiswa, tapi tak ada orang berdialetika serius disana. “Di mana otak orang-orang muda itu! Kopi seharga cawat biniku tetap tak mampu menelurkan ide, tak mampu mendialogkan kegelisahan, Starbucks itu cuma penuh orang-orang yang gelisah dengan narsisisme dan ego diri!” keluh Bang Jo, yang ketika itu sedikit (tidak) dungu.

    Akhirnya berbekal kegelisahan, dalam kesendirian juga kebodohan, Bang Jo menulis puisi untuk Wine untuk ia kirim ke kemudian.com. Puisinya berbentuk paragraf, itung-itung biar mirip puisi TS Pinang.

    Wahai Perempuan Kudungan

    Dia memecatmu, bukan karena kau perempuan, bukan karena kau kudungan. Dia memecatmu karena kau berpendirian. Dan wahai perempuan, dijaman apapun, sebuah sikap, sebuah pendirian adalah musuh utama tirani kekuasaan. Wahai perempuan, tegakkanlah badanmu, tapi jangan busungkan dadamu. Karena bila demikian, atasnama agama, kekuasaan itu lagi-lagi akan memecat gara-gara kau berpendirian. Bukan karena auratmu.

    Lalu, setelah di posting, ia baca puisi kawannya yang lain. “Ah, pantas saja situs ini aman. Tidak dipecat penguasa. Karena ternyata puisi-puisi ini juga hanya tentang langit dan bunga. Jarang ada pendirian dan sikap kritis penulisnya. Pantas saja…” gumam Bang Jo masih terbawa emosi, penuh keprihatinan, dalam kedunguan.

    Entah apa yang ia pikirkan sehari kemudian.

    *foto dari www.danielmahendra.com

9 Responses

WP_Floristica
  • johanes.koen INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 2.0.0.13 Says:

    Ini bukan mantenan ! Tidak perlu nyumbang atau punya undangan untuk mengisi sebuah komentar. Mari, silakan kawan..

  • Deschia INDONESIA Windows XP Internet Explorer 6.0 Says:

    wow…. keren… sarapan pagi yang nikmat…

  • Bamby Cahyadi INDONESIA Windows XP Internet Explorer 6.0 Says:

    Ya ampun hari gini masih ada yang dipecat karena berjilbab? Atau karena namanya Mandella? Apalah arti sebuah nama…

  • buayadayat INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 2.0.0.7 Says:

    seperti membaca umar kayam dan pak agengnya..
    sayangnya sisi pandang dia membuatnya jadi terasa berjarak..

    memang bersikap lebih susah di negri yg absurd ini kawan..

  • Villam INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 3.0.3 Says:

    tulisan yang bagus, kawan.
    dan jaga dengan baik pendirian dan sikap kritismu.
    berpendirian dan bersikap kritis adalah pilihan.
    menjalani hidup adalah pilihan.
    menulis–seperti apapun bentuk dan isinya–adalah juga pilihan.

  • joe_yabukie INDONESIA Windows XP Opera 9.24 Says:

    diakhir2 baitnya seperti “sepotong senja untuk pacarku..sering menjelek2kan untuk menghidupkan suasana..

  • wizurai INDONESIA Windows XP Opera 9.27 Says:

    untungnya gw gak banyak bikin puisi langit dan bunga, hehehe…

    salam dogol

  • johanes.koen INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 3.0.1 Says:

    untuk semua :
    wah, namanya juga bang jo. ngomong asal kena, sok intelektual pula. jadi dimaklumi saja. sambil kita liat, sehari kemudian, dia ngomong apa

  • Johan Cahyadi INDONESIA Windows XP Internet Explorer 6.0 Says:

    yang jelas Bang Jo bakalan tetep nyeletuk isi Republika lantaran lebih banyak yang bisa disambangi dibanding di Starbucks.

    Salut buat bang Kuntossss isi tulisannya makin mendalam dan menginspirasi banyak orang.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

Recent Posts