FireStats error : FireStats: Unknown commit strategy
  • 22Nop

    Semenjak Man Atek menawarkan member Kemudian.com untuk menulis puisi bertema roket dan satelit, hati Bang Jo ikut tertarik. Dua benda itu memang belum pernah ia lihat secara langsung. Roket, hanya ia lihat di televisi ketika marak berita invasi Iraq. Sedangkan satelit kapanpun bisa Bang Jo lihat di rumah, karena diruangtamunya, ada kalender yang memuat benda itu dengan jelas. Sebuah kalender pemberian Bu Deden, pemilik warung sebelah.

    Tapi Bang Jo cukup tahu diri. “Man Atek itu sepertinya kalau ngga orang LIPI ya orang LAPAN. Maka, kumpulan puisi ini, bila jadi diterbitkan pasti yang baca para peneliti. Para ilmuwan botak yang tiba-tiba bosen atau keberatan pikiran. Kalau nanti yang kusajakkan salah, bisa dikira udik, jauh dari ilmu tentang hal yang demikian.” Bang Jo sadar ia harus hati-hati. Baginya roket dan satelit adalah benda penuh misteri.

    Maka kalender bergambar satelit itulah yang mengantar Bang Jo ke rumah Bu Deden malam harinya. Sekedar basa-basi, ia membeli telor dulu, baru kemudian bertanya apa Pak Deden sudah pulang. Dan ternyata benar, buruh yang mengurus transmisi backhaul Jawa Sumatera milik Telkom itu telah pulang dari kantornya di Tomang. Bang Jo gembira, kalender satelit makin erat digenggamnya. Read more »

  • 18Nop

    Bang Jo sungguh paham jika sajak TS Pinang berbau-bau rumah : ada sumur, regol, musala, loteng, dapur, atau juga beranda. Maklum, penyair itu pernah studi tentang arsitektur, sealmamater dengannya. Tapi yang Bang Jo tidak pernah mengerti, mengapa delapan tahun ia kuliah di hukum, tetap juga tak mampu bertelur sajak tentangnya. Satu pun tidak ada. Tiap kali ia melihat patung Lady Justice duduk bijaksana, pikiran Bang Jo malah teringat Bu Deden lagi nimbang telor di warung sebelah rumahnya.

    Ketika siang ini ke warnet, dalam forum Bahas Puisi di Kemudian, dijumpai pula sebuah thread. Satu topik tentang profesional menulis puisi : bersajak dengan diksi sesuai profesi atau bidang yang digeluti. Dia tertohok lagi. “Atau mungkin aku yang terlalu bodoh untuk melakukan ini,” pikirnya.

    Dan mumpung berpikir, sekalian ia mengingat-ingat: apa benar sekalipun tak pernah membuat sajak tentang hukum. Pelan-pelan dibukanya ingatan waktu masih ngampus di Bulaksumur, waktu dolan-dolan sama pacar ke Semarang atau Bandung, sampai akhirnya menetap di Jakarta hingga saat ini. Akhirnya dia tersenyum kecil, tanda sedang terjadi kerja intelektual di kepalanya. Read more »

  • 17Nop

    Akibat lautan niat member Kemudian.com untuk nerbitin buku mengalami gelombang pasang , Bang Jo jadi ketularan basah. Karena berpikir jika diterbitkan dalam sebuah kumpulan tulisan - bersama anggota lain - maka royalti harus dibagi rame-rame, ia jadi lebih milih anti komunis alias menulis sendiri. Karena itu  sebulan ini, hidup Bang Jo sekedar dapur dan kasur. Makan di dapur, dan menulis di kasur.

    Tiap hari pula, hape lawasnya dipencet-pencet. Teman-teman kuliahnya di UGM dulu sudah banyak jadi orang, pasti ada pula salah satu yang jadi bos penerbitan, begitu pikirnya. Sambil menyelesaikan kumpulan cerpen, relasi pelan-pelan juga dikumpulkan. Hari-hari ini juga Bang Jo perlahan mulai percaya bahwa di jaman carut-marut seperti sekarang, relasi yang luas adalah surga dunia. Diapun mulai teringat ketika memasukkan anaknya ke SMP, butuh relasi. Begitu juga dulu, jaman sebelum nikah sama mamah, mau ndeketin pacar saja juga perlu relasi. Mak comblang mungkin, kata orang-orang di jaman ini.

    Dan seperti botol ketemu tutup, relasi sudah dikantong pas saat tulisan Bang Jo rampung. Sebulat tekad ia hendak tinggalkan dapur dan kasur : mandi, dandan klimis, nyepur ke Jogja ketemu kawannya. Bang Jo memang beruntung, kawan jauhnya yang dulu kuliah di Sospol, sudah jadi redaktur Galang Press. “Biar gendut, biar kriwil, ternyata moncer juga karirnya,” gumamnya di kereta, ngrasani kawannya sambil membayangkan, kalau tulisannya jadi diterbitin Galang, mungkin ia bakal seterkenal Moammar Emka. Bang Jo juga memprediksi, bisa ketemu Gilang, gadis montok jelita anak Pak Julius, pemilik Galang. Baru berangkat dari Gambir, dan belum juga nyampe Tugu, perasaan lelaki itu sudah tak karuan senangnya. Read more »

  • 16Nop

    Hari Sabtu sore ketika sedang ongkang-ongkang di rumah petak yang empet-empetan di Kampung Bali, Jakarta Pusat, Bang Jo kedatangan tamu. Tadinya dipikir ya itu-itu saja, kalau ngga Pak RT ngajak Badminton, paling-paling tukang tagih kredit. Maklum belum lunas juga cicilan mesin cuci sang bini. Tapi kali ini melesat, Pak Pri, guru anak perempuannya, sudah nunggu dibukakan pintu ruang tamu.

    “Hlo, Pak Pri, mari mari silakan masuk. Tumben, sampai menyempatkan kemari?” tanya Bang Jo menyelidik.

    “Iya, ada yang harus saya bicarakan dengan Bapak. Yah sekalian mampir, silahturahmi.” Pak Pri sedikit menghaluskan kedatangannya, toh alasan mampir juga logis karena rumahnya hanya di Kebon Kacang, sebelah Kampung Bali. Sama juga kondisinya, empet-empetan.

    “Mohon maaf sebelumnya Pak.”

    “Iya, silakan Pak Pri.”

    “Begini, tadi di sekolah, Hepi putri Bapak, kedapatan mencuri.” hati-hati Pak Pri menyiarkan kabar. Takut kalau Bang Jo naik pitam. Maklum, orang miskin darahnya lebih cepat ngalir ke otot daripada ke otak.

    Dan Bang Jo terdiam. Pikirannya melayang, membayangkan harus menebus barang yang sudah dicuri anaknya, yang berarti keluar duit lagi, atau berurusan sama polisi, yang juga sama arti : duit lagi. Tidak lama, ia tersadar jika Pak Pri masih diruangtamunya. “Hepi mencuri ?!! Nyolong apa dia Pak?”

    “Plagiat Pak, mencuri puisi !” didepan Bang Jo, Pak Pri menyalak mantab kali ini.

    “Nyolong Puisi ??” Seketika kegalauan tentang duit tebusan, atau urusan dengan polisi sudah hilang. Tapi Bang Jo malah tambah galau. Dulu kiranya hanya pesawat teve, duit di dompet, kalung-kalungan, atau paling pol anak gadis orang yang bisa dicuri, dan sama sekali bukan yang satu itu, puisi.

    “Pak Pri, apa uang saku yang aku beri ke Si Hepi tidak cukup untuk ia beli puisi sendiri? Kalau sedang tidak kuantar, anakku itu pasti kuberi uang transport yang kukira sudah cukup untuk pulang pergi dari sini sampai Mampang. Dan aku pikir, masih ada sisa, yah cukup untuk jajan cendol, fotokopi, atau itu tadi Pak, beli puisi.” Bang Jo masih berusaha membela, pikirnya tak mungkin putrinya mencuri apa yang sebetulnya mampu ia beli. Read more »

  • 15Nop

    Semakin hari, tampang Bang Jo makin cerah. Meski cinguran mulai jarang ia lakukan sejak harga daging sapi kian mahal, tapi lelaki beranak satu itu sudah punya hobi pengganti : online, ngecengin cewek-cewek di Kemudian. “Hidup itu harus dinikmati, kalau tidak apa bedanya dengan mati,” gumam Bang Jo, membenarkan signature buayadayat sambil menyiapkan strategi : nyelingkuhin istri.

    Dan pikirannya memang selangkah lebih maju, tepatnya lebih tak tahu malu. “Siapa bilang cuma orang muda yang boleh jual tampang.” Lalu sebentar-bentar ia bolak-balik file-file di komputer, mencari foto yang menurutnya paling ngganteng. Semua file gambar dibukanya, harap-harap ada salah satu yang apik, yang bisa menggelitik cewek cantik.

    Semenit belum ketemu, dua menit, dua puluh menit, tetap tak ketemu. Yang ada cuma foto-foto waktu makan rujak cingur di selatan Tanah Abang bareng istrinya, foto njagong manten yang itupun dipotret bersama belasan kerabat disisi kanan kiri, ada juga foto sewaktu main bulutangkis lawan Pak RT pas tujuhbelasan. “Ah, kalau cuma foto kampungan seperti ini, mana mungkin tampangku bisa laku terjual”, pikirnya.

    Ingin Bang Jo bikin foto narsis, seperti yang kerap ia lihat di Friendster. Tapi kamera digital yang dulu ia beli kredit di Columbia, yang selama ini untuk motret waktu makan rujak cingur, waktu badminton, waktu mantenan, sudah terlanjur dijual untuk nglunasi studi tour anak perempuannya. Kemudian ia rogoh-rogoh hape, dan dilihat, lalu sedikit menyesali hidup yang pas-pasan : belum berkamera.

    Sejenak lelaki itu lesu, niat buruk nyelingkuhin sang mamah hampir luntur. Tapi kata hampir itu yang akhirnya diberi garis bawah. Hampir, tapi tidak jadi luntur. “Ya, mengapa aku tidak ambil saja foto orang lain” dalam hati ia berbangga, merasa otak masih ditempatnya dan kepalanya masih berguna. Kemudian ia ke warnet, mengetik ‘pria indonesia’ di mesin pencari gambar. Setelah memilah, ia ambil foto lelaki kebapakan berkumis, lalu ia jadikan avatar di Kemudian. Dan Bang Jo bersenanghati, tak tahu kalau foto avatarnya, Sophan Sophian, sudah mati. Read more »

  • 13Nop

    Waktu dulu masih pacaran, istri Bang Jo yang asli Dumai sempat bingung. Perempuan cantik kinyis kinyis itu heran, lha Bang Jo kok bisa suka setengah mati sama rujak cingur. Jangan-jangan lelaki itu lebih milih cingur daripada bibir calon istrinya. Ia teringat masa-masa ketika yang lain diajak pacaran di mall, yang ini malah diajak cinguran di selatan Tanah Abang. “Dasar sial!“celetuknya.

    Tapi Bang Jo punya alasan tentang hobi cinguran di Tanah Abang. “Rujak cingur itu punya makna yang sangat dalam. Dek, lontong ini mencerminkan hubungan kita yang tampaknya utuh, tapi rapuh, sewaktu-waktu mudah putus. Sedangkan tahu, dari namanya saja, aku dan kamu sudah diingatkan agar kita harus saling tahu, ngga serba cuek kayak kamu yang kalau marah selalu mecucu.

    Kangkung, kangkung ini seret tapi enak kok dek. Suatu saat, kalau nanti sudah kawin, kita juga setuju yang seret-seret bakal bikin lebih enak, iya kan? Lalu petis, ini supaya kita ngga lupa, bahwa dalam tiap hubungan yang terpenting adalah rasa. Dan cingur, biar aku ngga lupa sama cingurmu dek!. Hahaha..“ Maka, dulu ketika sampai bosan mendapat jawaban yang itu-itu, ia cuma bisa ngambek, lagi-lagi mecucu.

    Read more »

  • 11Nop

    Bang Jo rada pusing hari ini. Pagi ini, waktu dia baca Republika, ada salah satu kolom yang menarik. Terpampang foto perempuan cantik di pojok kiri, dengan jilbab menutup kepalanya. “Ah sayang, aku sudah menikah, kalau tidak, lumayan juga perempuan ini. Tapi jangan-jangan dia berjilbab karena rambutnya jelek, gagal bonding, atau kepalanya botak.” gumamnya dalam hati.

    Namun bukan karena sudah menikah, kudung, atau khayal nakal tentang kepala botak pitak yang bikin lelaki itu pusing. Wine Dwi Mandella, perempuan yang nongkrong di pojok kolom itu dipecat dari Bagian Fisioterapi, RS Mitra gara-gara dia ngantor pakai jilbab. Bang Jo tak habis pikir, di negeri tempat anggota DPR seenaknya terima suap, tempat Sumantri Irianto yang Kades di Klaten itu bisa berzina dengan anak SMP plus direkam pakai kamera HP, kok ya masih ada perempuan dipecat gara-gara kudungan.

    Read more »

  • 11Nop

    Welcome to Blogs Kemudian.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

    Halo dunia ! Hello World !

    Dua patah kata, halo dan dunia, yang simpel ini, yang selalu mengawali latihan berbagai macam kursus pemrograman - baik itu Pascal, Java, C, Perl, Html, Python, dst - setidaknya bisa menjadi tanda bahwa apa yang terlihat di depan mata mampu menyembunyikan proses rumit yang ada dibelakangnya.

    Beberapa baris syntax yang harus dipelajari oleh sang pembuat program yang harus disesuaikan dengan software pengembang software yang sedang digunakan olehnya. Setelah itu masih harus melalui compiler. Deretan huruf berubah menjadi huruf-huruf yang lain, yang lebih tak kita kenal maknanya, menerobos sistem register komputer, melewati layer-layer operating system, diumpan ke prosesor dalam tegangan berdomain ‘1′ dan ‘0′, menyesuaikan diri dengan clock, dilempar ke VGA dengan deretan aturan yang berbeda. Akhirnya tampil di monitor ini, dan terbaca.. Halo dunia !

    Dan berbahagialah kita yang pagi ini bisa bangun, menyapa hidup dengan bersemangat, dan lantang menyalak, “Halo dunia!”

    Tentu ada proses lebih rumit dibelakangnya. Hanya diri sendiri yang mampu melihat dan merasa. Lalu? Edit or delete it

    * foto dari http://www.evoleo.com/wp-content/uploads/2007/04/hello_world.jpg

Recent Posts