Semenjak Man Atek menawarkan member Kemudian.com untuk menulis puisi bertema roket dan satelit, hati Bang Jo ikut tertarik. Dua benda itu memang belum pernah ia lihat secara langsung. Roket, hanya ia lihat di televisi ketika marak berita invasi Iraq. Sedangkan satelit kapanpun bisa Bang Jo lihat di rumah, karena diruangtamunya, ada kalender yang memuat benda itu dengan jelas. Sebuah kalender pemberian Bu Deden, pemilik warung sebelah.
Tapi Bang Jo cukup tahu diri. “Man Atek itu sepertinya kalau ngga orang LIPI ya orang LAPAN. Maka, kumpulan puisi ini, bila jadi diterbitkan pasti yang baca para peneliti. Para ilmuwan botak yang tiba-tiba bosen atau keberatan pikiran. Kalau nanti yang kusajakkan salah, bisa dikira udik, jauh dari ilmu tentang hal yang demikian.” Bang Jo sadar ia harus hati-hati. Baginya roket dan satelit adalah benda penuh misteri.
Maka kalender bergambar satelit itulah yang mengantar Bang Jo ke rumah Bu Deden malam harinya. Sekedar basa-basi, ia membeli telor dulu, baru kemudian bertanya apa Pak Deden sudah pulang. Dan ternyata benar, buruh yang mengurus transmisi backhaul Jawa Sumatera milik Telkom itu telah pulang dari kantornya di Tomang. Bang Jo gembira, kalender satelit makin erat digenggamnya. Read more »







